Tepatnya 5 kilometer dari alun-alun Purwokerto yang kontroversial itu warga berkerumun di depan layar putih yang tertancap di samping pos ronda. Kampung Sri Rahayu, sebuah kampung perkotaan yang dihuni oleh tukang becak, preman, anak jalanan, pengemis, pengamen, wanita pekerja seks dan waria atau dengan meminjam istilah LSM adalah kaum miskin kota, mereka sangat antusias menunggu berlangsungnya pemutaran film Jalan Remaja 1208. Mungkin dikarenakan adanya pemuteran film layar tancleb pertama di kampung tersebut.
Jam 9 malam setelah jamaah sholat tarawih berhamburan pulang acara resmi dibuka dengan membuka tutup lensa LCD dan memutar bumper jalan remaja 1208 yang di unduh dari youtube. Tak ada tepuk tangan saat itu, tetapi wajah ceria tampak di senyum mereka. Rasanya segala masalah pelik pada dirinya telah lenyap terbawa pantulan sinar LCD yang terbiaskan layar putih di bayangan mata mereka.
Delapan film telah siap disuguhkan untuk ditonton bersama, diantaranya; Diam, Kami Adalah Kami, Jangan Paksa Kami, Desaku, desa..?, Harapan untuk Gubernur, Bener-bener Murah, Apes, dan Inginku. Tak tampak jelas tanggapan dari mereka mengenai film-film tersebut, lontaran-lontaran sederhana keluar dari mulut, tawa-tawa kecil menambahkan bumbu malam hangat itu.
Tetap tak ada tepukan dari tangan-tangan semangat mereka dikala kedelapan film tersebut berhasil ditonton. Dan kemudian satu persatu mereka meninggalkan layar putih itu. Akhirnya, dengan seksama dan dalam tempo yang sesingkat-singkatnya, memutuskan, satu film fiksi yang menjadi bintang adalah “Apes”, dilihat dari celetukan dan tawa yang paling meriah diantara kemeriahan tawa dari film lainnya.
Selamat…