Terdengar suara cekikak-cekikik, tawa kecil teman-teman remaja Lendah – Brosot ketika sedang melihat film berjudul “Pamali di Rumahku” karya teman-teman remaja Makasar. Film yang menceritakan kebiasaan-kebiasaan yang dianggap tidak baik di kaum remaja Makasar itu hampir sama terjadi di desa lendah. Celetup-celetup tambahan kebiasaan tabu lain masyarakat sekitar mereka juga menyeruak. Ada juga pertanyaan “Apa sih Pamali itu?”, apakah benar akan terjadi seperti itu jika melakukannya? Apa makna dibalik ungkapan pamali itu?”.
Meminjam momen Hari Remaja Internasional yang diperingati setiap tanggal 12 Agustus, sore itu kami saling berkenal, berbagi cerita tentang aktivitas pribadi dan keseharian para remaja Lendah. Berkumpul, menonton film, berdiskusi, dan berbuka puasa bersama di Sekolah mBrosot seperti sore itu menjadi aktivitas baru bagi remaja sana. Kabanyakan mereka berkumpul pada acara kerohanian saja. Seru, asik, malu-malu.
Sebentar… Hari Remaja Internasional? Hem… tidak banyak yang tahu kalau ada Hari Remaja Internasional. Kapan itu mulai dicanangkan? Kenapa ada hari itu? Terus mau ngapain dengan hari itu? So, what gitu loh? Kata ungkapan gaul mereka. Itu segelintir pertanyaan-pertanyaan kecil kami disana. Tetapi okelah…yang terpenting adalah kami bersyukur telah berkembang menjadi remaja, dan berusaha mengisi masa remaja itu dengan kegiatan yang baik dan positif. Harapan sederhana bukan? Dan kami ingin memaknai Hari Remaja kami itu dengan cara yang sederhana juga.
Acara nonton bioskop semula direncanakan dimulai pukul 16.00 wib. Tetapi pada jam tersebut belum ada satu remaja pun yang datang. 20 menit berlalu baru muncul 3 orang remaja. Mereka bertiga terlihat gelisah juga, “Lho kok teman-teman belum datang ya?”. Padahal undangan sudah kami sebar loh”, kata mereka. “Ya sabar saja, nanti pasti datang”, sahutku. Dalam hatiku juga gelisah, wah jangan-jangan memang pada tidak datang ya?. Ini memang acara pertama kalinya kami mengundang para remaja di sini. Selang beberapa menit kemudian bermunculan remaja-remaja berpakaian rapi memenuhi ruangan perpustakaan. Ah…lega ternyata mereka menyambut baik undangan kami.
Pemutaran film dimulai pukul 16.40. Sore itu film yang mau ditoton adalah film produksi teman-teman jaringan Komunitas Kampung Halaman yang terlibat dalam program Jalan Remaja 1208. Puncak acara Program tersebut dibarengkan dengan Peringatan Hari Remaja Internasinal, dimana secara serentak dibeberapa komunitas memutar film-film produksi para remaja di seluruh Indonesia yang terlibat dalam Jalan Remaja 1208. Ada sekitar 30an film yang diproduksi dengan durasi pendek-pendek. Tetapi karena keterbatasan waktu, kami hanya memutarkan sekitar 16 film saja.
Selama proses menonton, tidak banyak komentar dan pertanyaan muncul berkaitan dengan materi maupun proses produksinya. Sepanjang pemutaran sebagian teman-teman remaja asik dengan pikiran mereka sendiri. Tidak banyak yang bertanya, mengomentari, apalagi mengkritik. Mungkin karena ajang pertemuan perdana, kondisi sedang berpuasa, dan keterbatasan alat. Kami menonton film hanya menggunakan laptop berlayar 14 inci yang hanya terlihat jelas dengan jarak 3-4 meter saja. Teman-teman yang duduk didepan saja yang mungkin bisa menikmati. Sedang yang duduk di belakang hanya akan mendengar suara saja, tidak bisa melihat gambarnya. Hal itu membuat teman-teman remaja kurang bisa menikmati film yang diputar.
Sebenarnya secara khusus tim Sekolah mBrosot menyediakan LCD proyektor yang sengaja dibeli satu hari sebelum acara. Tetapi karena kendala teknis koneksi, gambar film tidak bisa muncul di sceen, akhirnya kami tidak menggunakannya. Secara telah banyak remaja yang berkumpul juga. Yah…begitu kecewa sekali rasanya. Tetapi kami tetap menawarkan teman-teman yang tertarik, bisa mengkopi film tersebut atau bisa menonton kapanpun di Sekolah mBrosot.
Disela-sela acara, tim sekolah mBrosot menyelipkan pesan bahwa mereka juga bisa membuat film seperti yang dibuat teman-teman di Program Jalan Remaja 1208 tersebut. Bisa belajar banyak hal dari mulai membuat naskah, memegang kamera, mengedit, jadi pemeran, dll. Saat itu hanya satu dua orang saja yang menanggapi. Saya sedikit memberi bocoran pada mereka, sudah ada proposal dari jaringan kami untuk kerjasama membuat film yang diproduksi sendiri oleh anak-anak/kaum remaja. Jika tertarik teman-teman bisa bergabung.
Menjelang 15 menit waktu buka puasa, kami menghentikan pemutaran film. Rencananya setelah pemutaran ada diskusi, tetapi tidak jadi. Kami melanjutkan dengan ngobrol seputaran program sekolah mBrosot. Sekitar jam 18.45 terdengar suara adaz. Hidangan pecel, tempe garet goreng, tahu goreng ditambah dengan minuman kolak dan teh manis, yang dimasak sendiri oleh tim sekolah mBrosot, terasa begitu nikmat sekali mengiringi kami berbuka puasa. (tigakarang)
…semoga masih renyah…
Wah..sayang sekali gak bisa diputar pake proyektor yah..gak papa lah, biar pake laptop, yang penting semangat untuk berbaginya..
. Selamat untuk sekolah mBrosot. oh ya, untuk informasi bagi teman yg lainnya, mohon di jelaskan lokasi selengkapnya yah..