Saya punya keluarga (semua orang punya keluarga, tho?), sudah lama kami hidup dalam satu rumah namun ruang-ruang kami terpisah –dan sekarang benar-benar terpisah-pisah. Saya hanya merasa memiliki peran yang harus dilakoni untuk merobohkan sela-sela yang menjadikan kami terpisah ruang-ruang. Dan saya ingin melihat sela-sela itu roboh sebelum waktu saya habis. Mungkin yang saya inginkan dalam satu nyawa ini ya cuma ini –melihat keluarga saya senang sama-sama. Mungkin saya akan benar-benar merasa menang jika saya sudah merobohkan sela-sela itu. Dan mungkin saya akan merasa tidak perlu mengejar apa-apa lagi.
Hari ini, tepat 14 Februari 2011, sela-sela itu mulai roboh. Saya juga nggak menyangka sela-sela itu akan roboh hari ini atau tanggal berapa pun itu. Saya juga nggak pernah merencanakan bahwa saya akan merobohkan sela-sela itu tepat tanggal 14 Februari atau tanggal berapapun –kalau bisa sih tanggal 27 karena saya suka angka 27 =D
Sela-sela itu roboh begitu saja –disaat saya lagi bikin masalah baru di tengah-tengah keluarga saya. Ternyata nun jauh di seberang pulau sana, salah satu keluarga saya sedang mengungkapkan apa yang selama ini dia simpan dan dia tahan. Berita ini saya dapat dari ibu saya melalui ponsel yang sering kebanting ini nih. Ibu saya menceritakan kejadian itu bercampur dengan vibrasi sampai –saya yakin- menggerakkan airmata beliau untuk jatuh dari tempatnya. Vibrasi itu menular melalui telinga saya, yang merespon amigdala kemudian menumpahkan airmata yang dibawa oleh rasa… rasa vanilla mungkin? Kemudian saya mengungkapkan semua yang saya simpan selama ini dengan rapi.
3 dari kami sudah bersatu. Kemudian kami bersama-sama merobohkan sela-sela yang lainnya. Dan berhasil =) Tapi saya nggak boleh berhenti sampai disini. Saya dan anak-anak kecil mana pun sudah tahu dari dulu yang namanya godaan atau cobaan bertebaran dimana-mana dan bisa merogoh tulang rusuk kapan saja. Karena itu, selama saya hidup, saya nggak akan berhenti memperkuat pondasi yang sudah jadi ini. Bukan hanya memperkuat pondasi, saya akan terus mempercantik rumah ini dengan ornamen-ornamen rasa atau tawa adik-adik saya. Itu saja =)
Eh iya, kalau saya lupa satu catatan ini, tolong ingatkan saya, ya…. Saya orangnya sering pelupa soalnya. Terimakasih =)
- Thanks buat Mama Diana yang setia sama Baba AS. Saya belajar sabar dari Baba soalnya. Beliau luar biasa –mengajarkan sabar kepada anaknya tanpa perlu mengatakan apa pun, cukup mengajarkan lewat prilaku sendiri saja.
- Makasih buat Baba AS yang memilih Mama Diana sebagai ibu saya. Dari beliau saya belajar untuk jadi perempuan tegar yang luar biasa.
- Thanks buat mereka yang mempersaudarakan saya dengan kedua kakak saya yang satu luar biasa cerdas dan yang satu luar biasa penyayang.
- Thank God, Yang Memelihara saya di antara keluarga yang ini.
