“Eh, tahu nggak polisi gorontalo yang lipsing lagu india?’
“Ohya? Dimana?”
“Itu di Youtube, heboooh and lucu banget deeeeh!”
pada perbincangan lain,
“Hmmm, hpmu baru yak?:
“Iya donk, blackberry torch, kereeen kan!”
“Iya, kereeen dan kelihatan mewah.”
Ah, itulah, itu zaman modern namanya. Serba baru dan bisa. Kemajuan internet sudah semakin pesat dan mulai dapat diakses dimana-mana. Banyak faedahnya pula, mulai dari kepentingan pekerjaan, tuntutan tugas sekolah, sampai tempat membuang penat. Bahkan seperti sudah melekat motto macam berikut, ‘tiada hari tanpa online’. Hehehehehe. Hampir semua orang juga punya hp. Sehingga, informasi dan komunikasi jadi lebih mudah dan lancar di zaman modern ini.
Tak terlepas daripada yang kupaparkan, jelas semuanya karena teknologi sudah makin maju dong. Terbukti bagaimana teknologi berkembang, bahkan berkembang di sebuah kampung pelosok, tempat aku tinggal. Mendengar cerita bapakku, dulu semasa ia kecil sering mengisahkan kalau di kampung tak ada listrik. Penerangan satu-satunya dalam rumah itu hanyalah ‘cempor’ biasa orang sekampung menyebut benda itu… ‘cempor’ ini biasanya terbuat dari kaleng bekas obat pembasmi hama yang diberi sumbu guna menyalurkan minyak tanah ke api agar tetap menyala. Ah, waktu dulu, minyak tanah masih murah, seingatku waktu kecil, harganya 650 rupiah/liter. Sekarang listrik sudah masuk desa, dunia terasa terang benderang. Hantu-hantu pada ngabur karena ada listrik, celoteh dan canda para tetanggaku.
Teknologi benar-benar telah mengubah zaman. Kini, mengupas cerita nenek dan ibuku. Dulu kalau kita memasak, kita pake ‘pawon’ istilah kami menyebut tungku yang terbuat dari bata-bata yang disusun dengan pengobar api adalah tak lain kayu-kayu bakar. Sekarang kompor gas sudah merajalela, jarang orang pake ’pawon’ lagi. Kata ibuku, dulu itu belum ada sampo seperti yang sering kita lihat saat ini, jadi jika ingin keramas, biasanya menggunakan jerami yang dibakar lalu abunya digosokkan di kepala dan hasilnya ajaib, rambut akan hitam mengkilat. Hebat dan hemat kan! Satu lagi yang mereka ceritakan, kalian bisa bayangin nggak menyikat gigi memakai tumbukan bata? Orang dulu melakukannya loh. Pasta gigi kan belum marak kayak sekarang waktu itu. Tapi semasa aku kecil, aku masih suka mempraktekannya juga, ya kadang-kadang kalau lagi nggak punya duit buat beli pepsodent. Hasilnya, putih tuh gigi dalam sekejap. Serius!
Ada cerita sedikit, ketika masih SD, aku pernah melihat layar tancap di lapangan sekolahku. Filmnya berjudul ‘lutung kasarung’. Rame-rame nggelar tikar ama temen-teman diatas rumput sampe malem, untung rumahnya deket dari sekolahan, jadi nggak takut pulang. Sekarang, aku sudah nggak bisa lihat layar tancap lagi. Zamannya udah bioskop, prosedurnya kita harus beli tiket, masuk ke ruangan, duduk diatas kursi empuk dan ber-AC baru bisa nonton. Padahal nonton layar tancap tidak ribet dan angin alami lebih sejuk serta hemat energi. Iya kan?
Ya sebenarnya teknologi itu baik kok. Asal kita tahu cara dan tepat menggunakannya serta tak berlebihan, karena jika tidak, efeknya akan sangat luas dan menimbulkan masalah-masalah baru yang lebih kompleks. Hidup teknologi!!
mungkin judulnya harus direvisi, karena saya ga ‘menangkap’ layar tancap sebagai bahasan dari tulisan ini. konten tulisannya harus lebih difokuskan. selamat ‘merekam’ sejarah kalian!
sekarang orang daerah kota batang (jawa tengah) khususnya di desa TOMBO pun masih menggunakan PAWON sebagai sarana memasak yang hemat dan tradisional kok,contohnya ibuku klo masak masih menggunakan PAWON dengan sumber api dari kayu bakar…
hhehehee..
maklum rumahku kan ada di pelosok…hiduuupp tradisional !!