Hidup itu sementara. Sebagai seorang umat muslim yang baik, kita harus taat kepada perintah-perintah Allah dan mengamalkan setiap isi dari setiap ayat-ayat suci-Nya. Di zaman dahulu para Nabi, Ulama dan Wali berjuang tanpa lelah demi menyebarluaskan Agama Islam.
Evolusi pun terjadi, di zaman globalisasi ini banyak orang-orang yang lupa akan kewajibannya kepada Allah, Tuhan kita. Orang-orang lupa akan tugasnya sebagai umat muslim karena semata-mata hanya mencari kesenangan di dunia, tidak lain adalah uang. Bahkan uang bisa menjadikan kita kehilangan hati nurani. Lihat saja para koruptor, apakah mereka punya hati nurani?
Memang benar, kita tidak akan bisa hidup tanpa uang, karena di dunia ini tidak ada yang gratis. Namun tidak seharusnya kita lupa akan kewajiban kita, orang tuaku juga setiap hari bekerja mencari uang untuk biaya sehari-hari dan sekolahku, tapi mereka tidak lupa. Bahkan aku juga mencari uang untuk jajan setiap hari. Balasan yang kita berikan tentu tidak sebanding dengan para Nabi, Ulama dan Wali yang sudah susah payah menyebarkan agama islam.
Di zaman ini banyak perempuan yang seperti laki-laki atau pun sebaliknya. Namun ada juga anak laki-laki yang merasa dirinya harus keren dan gaul, tentunya agar bisa di sukai banyak perempuan. Dengan cara bagian wajah di pasang tindik, pakai anting-anting, suka minum-minuman keras, dan merokok bahkan narkoba. Menurut riset di desaku, kata mereka yang suka merokok kalau ada anak laki-laki yang tidak suka merokok di anggap sebagai banci karena tidak gentel. Tapi jika kita berfikir positif, tidak semua hal itu bisa di lakukan agar bisa keren. Hal itu terjadi karena salah pergaulan. Apa lagi remaja itu harus melewati masa pubertas, di masa ini kita sangat perlu peran orang tua dan guru agar tidak salah arah. Contohnya perempuan yang seperti laki-laki jika mereka sudah salah arah seperti itu dan sudah nyaman dengan keadaan itu, pasti susah di ubah. Perempuan boleh tomboy asal tidak keterlaluan. Aku juga termasuk cewek tomboy, suka usil lagi, tapi tidak terlalu.
Di sekolah ku, yaitu SMKN 1 Cikedung di Indramayu, banyak sekali macam-macam sifat remaja. Dari mulai yang masih ke kanak-kanakan sampai yang dewasa. Tergantung pemikiran masing-masing sih… kan setiap orang punya pola pikiran yang berbeda-beda. Aku adalah siswi kelas X MM2 (Multi Media 2), aku tinggal di desa Amis di Indramayu. Dan aku selalu salut akan semangat teman-temanku. Memang kebanyakan anak laki-lakinya masih ke kanak-kanakan, tapi dari empat puluh satu siswa-siswi di kelasku, tiga di antaranya yang membuatku salut. Mereka berjuang dengan segala cara untuk bisa memperoleh pendidikan, misalnya Ana Hamidah, ia anak Raja Galuh di Majalengka yang tinggal bersama kakeknya karena orang tuanya broken home. Ia terpaksa bersekolah jauh dari tempat asalnya. Hari pertama masuk sekolah setelah masa orientasi siswa, ku lihat ia selalu sendiri. Aku tidak tahu kenapa, karena awalnya ku kira dia berasal tidak jauh dari desaku. Saat itu aku mencoba mendekatinya dan ku ajak berkenalan dan saat itu juga aku tahu kenapa ia selalu sendiri. Ia selalu sendiri karena tidak mengerti dengan bahasa daerah yang kami pakai. Maklum saja ia adalah orang Sunda, sedangkan kami orang Jawa. Kami berkomunikasi dengannya menggunakan bahasa Indonesia dan seteah enam bulan berteman dengan Ana, dia mulai bisa nyambung dengan obrolan kami, walau awalnya kami sering geregetan karena setiap bicara dengannya selalu tidak nyambung. Dalam bahasa Sunda yang ia pakai, hanya satu kata yang bisa ku mengerti, yaitu “naon” (apa). Kami sering usil kepadanya, kami tanya…..
“ Ana, naon tuh artinya apa?”
“Apa…” jawabnya. Kami balas lagi..
“Yah!!! Naon tuh apa? Kamu malah balik nanya”.
“Ya naon itu APA Mini…..” jawabnya gregetan.
Kami tertawa terbahak-bahak sampai Ana kebingungan. Tapi di mana ada tawa, di situ pasti ada air mata. Ia sering menceritakan keluhannya kepadaku, ia selalu di manfaatkan oleh teman-temannya. Tapi aku selalu menyemangatinya.
Selain Ana, ada lagi teman ku yang bagai pinang di belah dua. Ia anak kembar dari desa Jambak, namanya Kustinah dan Kustinih. Kami tergolong keluarga yang tidak mampu, jangankan Kustinah dan Kustinih yang harus membayar uang Dana Sumbangan Pendidikan (DSP) dua kali lipat dari kami, kami sendiri yang hanya membayar DSP untuk sendiri susahnya minta ampun. Demi untuk membayar uang DSP aku rela mencari kerja, dari mulai jagi agen pulsa, penyiar radio, guru PAUD (Pendidikan Anak Usia Dini), seles susu kedelai dan keripik juga mengerjakan tugas artikel teman sesekolahku, aku jalani. Tapi mereka beruntung, salah satunya di bebaskan dari biaya itu. Mereka berdua adalah sosok perempuan yang santri, mandiri, pintar dan suka usil, tapi mereka selalu semangat menjalani hari walau pun pergi sekolah harus mengayuh sepeda berboncengan sejauh dua puluh KM setiap hari. Aku salut dengan mereka.
Di luar kelas ku, tepatnya di X MM 1 dan X TKR 3 ( Teknik Kendaraan Ringan / Otomotif ) terdapat pula sosok yang ku saluti, mereka adalah Ramita dan Dede Satari. Ramita misalnya, ia memiliki cita-cita sebagai Polisi, namun ia sering berbuat konyol karena pergaulannya yang salah. Tapi aku salut dengan semangatnya, ia selalu mengikuti ekskul yang bisa menambah poin lebih jika ia ingin mendaftar sebagai polisi, seperti Pramuka dan Paskibra atau yang biasa kami sebut dengan PKPB ( Pasukan Khusus Pengibar Bendera ). Di ekskul Paskibra ini, ia mendapat posisi yang menguntungkan, yaitu sebagai Pembentang Bendera Merah Putih, tingkat Paskibra kami juga lumayan tinggi, Paskibra di sekolah kami di tingkat Kecamatan, jadi setiap tahun Paskibra sekoah kami selalu mengibarkan Bendera Merah Putih di lapangan kantor Kecamatan. Dari situ ia bisa mendapat sertifikat untuk bekalnya nanti. Ia juga termasuk keluarga yang tidak mampu, ia masuk ke SMK karena mendapat keringanan. Ia juga sosok yang pemalu, sehingga jika ia di minta untuk memberikan pendapat ia pasti tidak mau, karena malu. Pernah waktu itu acara Muspanitra ketua DKR ( Dewan Kerja Ranting ) kec.Cikedung, ia di minta untuk berkomentar. Tapi karena ia grogi, ia hanya mengucapkan kata yang membuat semua anak-anak yang ada, tertawa terbahak-bahak. Satu kata itu, untuk pertama dan terakhir kalinya yaitu “MENTEJELE!!!!”. Sampai saat ini kata itu sulit untuk di lupakannya. Aku pun heran, apa yang ada di pikirannya hingga ia mengucapkan kata itu. Ramita juga selalu ingin protes karena alasan nama kepada orang tuanya. Kita sering memanggilnya Mimit dan Mita, ia bilang begini…
“kalau waktu itu aku bisa protes, aku akan protes tentang namaku. Tapi mau gimana lagi, namanya juga masih bayi, mau protes juga paling bisa nangis. Sedangkan orang tua kan sering bingung, kalau bayi nangis apa maunya…”. lanjutannya di pesan ke2.
Sedangkan Dede Satari, ia sosok laki-laki yang pemalu juga, tapi menurutku sifat pemalunya menjadi daya tarik tersendiri bagi perempuan. Buktinya, dua sahabat ku sampai klepek-klepek di buatnya. Dede ini sahabat dekatnya Ramita. Tapi itu dulu, sebelum jam pelajaran sekolah memisahkan mereka. Di dalam ekskul Paskibra, Dede juga mendapat posisi yang menguntungkan, pasangan dari pembentang, yaitu pengerek tali. Dede adalah anak kelas X TKR 3, menurutku juga ia beda dari anak TKR lainnya yang terkenal dengan kenakalannya. Ia rajin, setia kawan, pemalu dan pendiam. Dulu ia sosok yang humoris, tapi semenjak ia mendapat masalah, sosok humorisnya hilang begitu saja. Yang aku saluti darinya adalah, ia mau berusaha dan selalu semangat, walaupun setiap hari minggu ia harus hilir mudik ke desa asalnya, yaitu Cikamurang. Selama ia sekolah, ia tinggal bersama kakeknya yang bertepatan di sebelah barat desaku. Walaupun jauhnya berlipat-lipat kilometer dari rumah Kustinah dan Kustinih, ia selalu semangat pulang demi untuk membantu orang tuanya bekerja di kebun. Selain semangatnya, yang ku saluti darinya adalah, ia beda dari anak laki-laki kebanyakan. Ia sangat membenci rokok, menurutnya, rokok itu tidak ada gunanya. Pendapatnya itu sangat bertentangan dengan anak laki-laki yang ada di desaku yang menganggap kalau anak laki-laki tidak merokok di cap sebagai banci. Ia pernah dihukum bersama teman-temannya karena dituduh merokok. Namun karena ia tidak merasa bersalah dan mau berusaha mengemukakan kebenaran, akirnya ia bebas dari hukuman itu. Dan sekarang, Ramita dan Dede harus berjuang menyiapkan fisik dan mental untuk mengikuti seleksi Paskibraka tingkat Kabupaten. Aku pun termasuk anak yang gila akan ekskul, maklum saja saat ini aku sedang mencari jati diri dan potensiku.
Di era globalisasi ini banyak anak-anak kecil yang meresa dewasa sebelum waktunya, tentu ini diakibatkan karena pergaulannya. Namun ada juga yang sebaliknya, umurnya dewasa tapi masih kekanak-kanakan. Mereka cenderung mempunyai sikap manja, egois, tidak mau tahu, tidak sabaran, dan susah diatur. Yang aku kesalkan dari teman-teman sekelasku, mereka sering membuat guru favoritku marah, atau mungkin karena aku juga kali ya…. Mereka selalu tidak mau menyatat dan mengerjakan tugas. Bahkan semakin hari kenakalannya semakin menjadi-jadi. Aku heran, apa sebenarnya yang mereka pikirkan. Guru kewirausahaanku bilang,
“kita harus mempunyai sikap, konsisten dan punya integritas agar dapat menjalani hidup mandiri, tentu tidak lupa juga kewajiban kita kepada Allah”. Tapi mereka tidak meresponnya.
Dunia ini luas untuk kita jelajahi. Tidak sedikit remaja-remaja yang berfikir normal dan tidak sedikit pula yang bisa di bilang masih kekanak-kanakan. Tetapi dengan adanya kemauan dan kesadaran akan perubahan, kita pasti bisa menjadi lebih baik. Tentunya dengan berusaha. Namun kita tidak bisa menjadi manusia yang sempurna, kesempurnaan hanya milik Allah. Tapi buatlah mereka sesempurna mungkin di hati kita. Kekurangan dan kelebihan janganlah membuat kita berkecil hati dan sombong, percayalah akan kemampuan kita dan percayalah kepada diri sendiri. Guru favoritku pernah memberikan resep kesadaran diri, yaitu 3 M :
1. Mulailah dari diri sendiri
2. Mulailah dari hal-hal yang terkecil
3. Mulailah saat ini juga
Selamat mencoba… maju terus remaja-remaja Indonesia!!!
Oleh : Rusmini, siswi SMKN 1 Cikedung, kelas X MM (Multimedia). Sanggar Teratai, Indramayu.
mantaappp…