Pada tanggal 12 agustus 2011 ini, seperti pada tahun-tahun sebelumnya, Hysteria mengadakan pemutaran film pendek karya anak bangsa yang diinisiasi oleh Organisasi Kampung Halaman Jogjakarta. Program yang salah satunya ditujukan untuk memperingati hari remaja sedunia ini melibatkan Hysteria untuk pemutaran di Semarang. Film-film pendek karya anak bangsa di seluruh Indonesialah yang menjadi materi pemutaran. Di tahun-tahun sebelumnya, pemutaran di Semarang secara reguler di lakukan di SMA 1 Semarang, tapi tahun ini Hysteria berencana untuk melibatkan sekolah-sekolah lain. SMA 1 Islam Sultan Agung pun kami pilih unuk pemutaran yang dilakukan serentak pada tanggal 12 Agustus diseluruh Indonesia. Film-film yang telah di produksi oleh beberapa jaringan Kampung Halaman di Seluruh Indonesia pun disiapkan untuk diputar pada hari H.
Koordinasi antar Hysteria dengan Kampung Halaman terus dilakukan untuk menghindari terlupanya detail kebutuhan-kebutuhan akan acara. Persiapan untuk pemutaran dilakukan semenjak jauh-jauh hari yaitu sebulan sebelum acara diseleggarakan. Pada hari H pemutaran, Hysteria mempersiapkan beberapa anggota untuk standby di tempat acara sekaligus mengkoordinasi pemutaran di SMA 1 Sultan Agung. Pihak SMA yang telah berkoordinasi pun mempersiapkan beberapa kebutuhan akan pemutaran dari ruang hingga siswa-siswi yang akan berpartisipasi dalam pemutaran.
Pemutaran dimulai pada jam 8 pagi, dimulai dengan pengantar dari guru sekolah SMA yang menjelaskan tentang adanya pemutaran pada hari tersebut. Setelah penjelasan sedikit dari pihak Hysteria tentang hal-hal pemutaran film pun diputar seperti tema “Instant” yang selalu lekat dalam tiap film yang diputar dan kaitannya dengan kehidupan remaja akhir-akhir ini. Dimulai dengan pemutaran Kudu Misuh, Putih # Cantik dan Melepas Bab yang kemudian dilanjutkan dengan diskusi singkat. Beberapa siswa diharap dapat mengemukakan pendapat mereka terkait film yang telah diputar. film Melepas Bab cukup menggugah penonton dari 3 film awal yang diputar. Beberapa siswa berpendapat bahwa fim ini memang merepresentasi kondisi korupsi birokrasi di Indonesia.
Pemutaran dilanjutkan dengan memutar film Pencontek dan Adilkah. Untuk 2 film ini, anggota Hysteria mematik pembahasan dengan mengangkat topik buday percotekan di SMA. Beberapa siswa berpendapat bahwa tidak mungkin ada siswa di Indonesia yang tidak pernah melakukan kegiatan mencontek. Ada pula yang berpendapat bahwa Indonesia memang sudah jelek, apa pun yang kita lakukan tetaplah sebuah kesalahan karna budaya Indonesia adalah budaya yang buruk. Perdebatan sempat terjadi tentang persepsi bagaimana kebiasaan mencontek merupakan kebiasaan yang pasti ada di setiap orang Indonesia yang pernah mengenyam pendidikan dengan persepsi bahwa mencontek hanyalah urusan pribadi yang kemudian merujuk pada tidak semua siswa pernah mencontek.
Perdebatan tidak berlangsung lama karna waktu yang terbatas dan materi film yang masih harus diputar. Brlanjut pada pemutaran film Nak Tamat dan Aku Indonesia. Nah, disini lagi-lagi terjadi perbincangan hangat mengenai beberapa hal diantaranya mengenai identitas yang diwakili oleh topik orang-orang cina Indonesia. Salah satu anggota Hysteria menjabarkan sedikit sejarah bagaimana orang Cina sudah lama menetap di Indonesia sejak berabad-abad yang lalu. Sejarah ini kemudian tetap dipandang sebelah mata dengan beberapa siswa yang beranggapan apapun yang terjadi, mereka tetaplah Ahong(sebutan untuk orang yang terlihat berperawakan cina). Sang guru yang memang mengikuti alur pemutara pun turut berbincang mengenai pengalaman pribadinya bersinggungan dengan isu ras ini secara langsung. Ia menjabarkan tentang pengalamannya mengajar salah satu murid yang di sebut Ahong oleh beberapa orang dan bagaimana dia sangat berharap tidak dibeda-bedakan dengan anak perawakan pribumi.
Perbincangan harus disepakati untuk di tunda karna harus berlanjut pada pemutaran selanjutnya. 3 film terakhir yaitu jalanku Menari, Dikondisikan dan Mie Sandur menjadi film penutup pemutaran pada tanggal 12 agustus tersebut. saat film selesai diputar, para siswa pun kembali diajak membahas hal-hal terkait tema yang diangkat dalam film seperti budaya asli Indonesia yaitu salah satunya adalah tari. Beberapa siswa menyatakan bahwa remaja sekarang sudah tidak memiliki identitas, mengkonsumsi barang-barang yang sama sekali bukan identitas pribadi pribumi. Kita pun mencoba bertanya kembali pada seluruh siswa tentang apa itu kesenian Sandur. Hampir semua siswa tidak mengetahui mengenai kesenian ini dan hanya satu siswa yang dapat mengaitkan kesenian ini dengan kesenian lain seperti Ludruk dan Ketoprak.
Tema awal mengenai hal-hal instant yang terlihat di hampir semua film pun menarik untuk beberapa siswa. Mereka menganggap banyak siswa SMA di Indonesia seperti mereka sangat menghalalkan cara seperti mencontek yang notabene salah satu contoh dari hal instan yang sangat sering dijumpai di kalangan siswa SMA maupun strata pendidikan lain. Saat digali lebih dalam mengenai bagaimana film Adilkah menjadi representasi nyata bagaimana mencontek sangat menghancurkan mimpi seseorang, siswa-siswi pun kurang merasakan hal tersebut dan melihatnya sebagai kejadian biasa.
Diakhir forum, kami meminta beberapa siswa untuk mengemukakan pernyataan penutup mengenai pemutaran selama 1,5 jam tersebut. Beberapa siswa masih ragu mengenai mengemukakan pernyataan layaknya keseluruhan forum selama 1,5 jam yang mana mereka masih kurang inisiatif untuk bertanya. Beberapa siswa pun menyatakan bahwa mereka bisa melakukan yang lebih baik dari sekedar menjelekkan orang lain karna kulit mereka, mencontek maupun mengikuti trend yang sama sekali bukan ciri khas identitas asli sebagai warga Indonesia. Yang terpenting adalah, tambah sang guru, bagaimana tiap pribadi menghargai yang lain dan memaksimalkan potensi pribadi mereka secara independen.
Pemutaran pun berakhir pada jam 10.45 dan ditutup dengan ucapan terima kasih dari segenap anggota Hysteria, lembaga terkait dan siswa-siswi yang mengikuti pemutran atas kerja sama mereka dan kami berharap dapat melakukan pemutaran kembali di tahun depan

