Tulisan

Ujian Nasional dan Remaja Indonesia

Selain menjadi momok yang menakutkan, UN juga menjauhkan remaja dari potensi dan cita-cita mereka. Waktu untuk mengasah bakat dan kreatifitas terpaksa dihabiskan untuk latihan mengerjakan soal-soal UN.
Kontributor: Iwan Syahril
Coba Lihat Aku!

Guruku, janganlah kau paksakan aku Kerjakan soal-soal matematika yang rumit itu Karena buntu pikirku ke arah situ Tapi mungkin ajaklah aku mencipta lagu
Kontributor: Iwan Syahril
Tentang Masa Depanku

Membawaku terlarut dalam kesunyian dan membawa puing-puing kepedihan Akan sosok masa depan yang begitu menakutkan
Kontributor: Cumplunk, peserta dari Muntilan
Kita, Remaja dan Ledakan itu....

Tiba-tiba salah seorang rekan saya bilang, "Mana remote TV? Ada dua bom meledak di Jakarta...." Lalu, kami mencoba menyerap sejumlah informasi berbalur spekulasi yang disampaikan dengan gaya emcee oleh 'reporter' salah satu stasiun televisi Jakarta.
Kontributor: Prima Rusdi, penulis skenario film, fasilitator JR
Dea dan Jalan Remaja

Aku yang cuek namun mudah terhasut, akhirnya sadar, bahwa hidup ini milik aku, dan tidak ada seorangpun yang dapat mengaturku, karena pada akhirnya, semua tanggung jawab akan dilimpahkan padaku.
Kontributor: Irma Fidela Dhea, peserta dari Makassar
Belajar dari Masalah

Tentu tidak sedikit diantara kita yang harus kehilangan teman akibat 'cuti' dari sekolah untuk rehabilitasi atau ditinggal DO (Drop Out) teman perempuan karena hamil. Ya, memang terdengar mengerikan tapi itu sungguh-sungguh terjadi.
Kontributor: Enur Sholihah, peserta dari Tasikmalaya
Cerita Linda tentang Jalan Remaja

..banyak remaja-remaja di daerah saya, Kaledupa menganggap anak laki-laki yang suka menari adalah banci. Padahal anak laki-laki yang suka menari itu ingin agar tarian khas Kaledupa yang mereka pelajari tidak punah.
Kontributor: Linda Juans Patti, peserta dari Kaledupa
Cerita Rian dari Kaledupa

Beberapa saat kemudian, ayah dan ibuku di undang kepesta pernikahan keluarga di Bau bau. Namun, pas di hari pernikahan, ayah saya kabur dan tidak pernah memberikan kabar kepada kami.
Kontributor: Riyan Sastriyanto, peserta dari Kaledupa
Rekayasa Bercerita Tentang Sekolah Remaja

....Hari pertama pengambilan gambar semua berjalan lancar tapi setelah di lihat ternyata gagal total, he he he he.... "dikira gampang buat film". Hari ke dua, saya mengusulkan mengambil gambar di cuaca yang tidak bersahabat, tadinya sich sudah agak cerah tapi setelah kaki menginjakkan anjungan tiba-tiba ujan mengguyur jadi nda jadi mi....
Kontributor: Rekayasa Hadianto, peserta dari Makassar
Surat Toto Untuk Widodo dan Remaja Di Seluruh Dunia*

Kamu bayangkan Wid, kalau setiap 2 hari mereka berkunjung ke tempat ini dan menghabiskan waktu 2-3 jam, artinya kan dalam seminggu mereka harus mengeluarkan uang sekitar Rp 27.000 atau Rp 108.000 perbulan. Sementara menurut Pakdeku yang juga buruh tani seperti bapaknya si Joko, dari pagi sampai sore mereka menerima upah Rp 20.000. Wid, kalau kamu di Jakarta punya uang Rp 27.000 bisa dibelikan apa ya? Kabarnya di sana secangkir kopi saja harganya Rp 35.000 ya Wid? Aku bisa bayangkan Kopi itu harusnya enak sekali ya Wid. Harganya lebih mahal dari upah bapaknya si Joko soalnya.
Kontributor: Dian Herdiany, Pendiri dan Fasilitator KH
Salam Hangat dari Desa Sombano

Masyarakat Sombano meyakini bahwa di telaga itu terdapat seekor ikan yang tubuhnya hanya sepotong yang dapat muncul pada setiap hari Jum'at. Di Telaga Sombano ini juga dipercaya menjadi tempat bersemayamnya roh-roh halus.
Kontributor: Muvita Sarti Ningsih, peserta dari Kaledupa
Senyuman untuk Sahabatku

Beberapa hari kemudian aku melihat wajah Dian mulai mencerah. Aku sangat senang melihat perubahan ini. Hingga pada suatu saat akhirnya dian mengaku juga padaku bahwa Dian menyukai Didi. Ingin menangis rasanya aku mendengar ini. "Kenapa harus Didi sih Dian???" jeritku dalam hati.
Kontributor: Tri Karyanti, peserta dari Jogjakarta
Cerita La Ode dari Kaledupa

Pada saat Pra MOS, banyak siswa baru yang merasa jengkel dan marah pada kakak senior
Kontributor: La Ode Hermawan S, peserta dari Kaledupa-Wakatobi
Cerita Aco dari Kaledupa

Ingat, kita sebagai kalangan remaja menjadi penentu nasib bangsa ini ke depan. Melalui workshop ini, saya ingin orang lain tahu bahwa kita sebagai kalangan remaja Indonesia tidak hanya tinggal diam.
Kontributor: Fidarso, peserta dari Kaledupa-Wakatobi
Cerita singkat selama mengikuti kegiatan Jalan Remaja

Hari pertama saya mengikuti kegiatan ini duduk beralas karpet dengan seribu tanda Tanya di pikiranku.. 'ini kegiatan apa? tujuannya apa?'
Kontributor: Nurindah, Peserta dari Makassar
Cerita Fikri dari Makassar

Uniknya, mulai dari penentuan gagasan film, cerita, skenario, sampe proses syuting dan editing semua peserta turut berperan. Ngutip ucapan salah satu fasilitator dengan sedikit perubahan (he he hee....), 'Mana ada di film lain artisnya juga ikut sumbang ide dalam proses editing!'
Kontributor: Fikri Yathir, peserta dari Makassar
Bu Guru, I Like U..

Kulihat guru itu marah sekali dengan tingkahku. Dengan pandangan menantang aku bertanya; Kenapa pak?ada yang salah? Tanpa di duga,guru itu berteriak Kamu pikir ini sekolah nenek moyang kamu apa?!?keluar masuk seenaknya! Di kelas ini masih ada saya! Setidaknya kamu izin atau permisi dulu,jangan asal nyelonong! Sekarang kamu menghadap kesiswaan!.
Kontributor: Tri Karyanti, Peserta dari Yogyakarta
Belajar Asik, Hang Out Menarik, No Boring

Remaja adalah masa-masa transisi menuju suatu perkembangan yang lebih besar, atau disebut dengan dewasa. Remaja adalah rentan dan sangat rawan. Remaja adalah titik samar yang tegak berdiri diantara benang hitam dan putih. Remaja adalah kaya. Penuh keingintahuan, penuh kreativitas, penuh kata-kata, penuh problema, penuh keraguan, penuh keinginan, penuh mimpi dan angan, penuh cita-cita, dan penuh pemikiran yang mudah terbumbui.
Kontributor: Noviyanti Mawardiyani, peserta dari Balikpapan
Sebuah Pintu, Masih adakah?

Sepucuk surat ajaib itu juga membuat Gerbang yang bertahun-tahun menghalanginya dari emak dan aroma nasi liwet teman-temannya terbuka. Terbuka lebar sekali, namun perlahan. Gerbang itu perlahan menyipratkan sinar matahari Kota Tasikmalaya ke wajah Abuy yang terpukau.
Kontributor: Rina Amalia Budiati, peserta dari Tasikmalaya
Pantun Aneh

Meja putih berlapis baja Aku bangga jadi anak Indonesia Merah putih bendera ini Jiwa raga hanya tuk ibu pertiwi
Kontributor: Asmaul Rokimah, peserta dari Balikpapan
Coba Pikirkan !

Angin kedamaian berhembus di pedesaan Angin kericuhan berhembus di perkotaan Alam terbentang luas nan indah di pedesaan Alam tak terlihat sedikit pun di perkotaan
Kontributor: Asmaul Rokimah, peserta dari Balikpapan
Belajarlah

Mengertikah kau akan indahnya goyangan daun? Awalnya, aku tak mengerti Ku amati perlahan Tersirat bahasa daun memberiku berjuta informasi Dan aku pun belajar dari daun yang bergoyang
Kontributor: Asmaul Rokimah,peserta dari Balikpapan
Aku Ada Dimana-mana

Jangan hanya diam pada satu titik teman Tengoklah berbagai pengalaman Dari tiap-tiap kisah per halaman Temukanlah berjuta nutrisi pikiran
Kontributor: Asmaul Rokimah, peserta dari Balikpapan
Ada Apa Dengan Pendidikan Indonesia ?

Beliau merasa heran ketika melihat beberapa sekolah yang ada disana bentuk bangunannya tidak seperti yang biasanya ada di Indonesia, yakni tidak ada pagar pembatas atau semacamnya. Kemudian Beliau pun berinisiatif menanyakan hal tersebut kepada salah seorang guru Australia yang ada disana. Seorang guru tersebut menjawab pertanyaan ibu kepala sekolah sembari tersenyum. "Kami mengajar manusia, bukan hewan" jawabnya.
Kontributor: Dodi Faedulloh
Sekolah Kehidupan dalam Workshop

Setiap orang dewasa pasti mengalami masa remaja. Pengalaman tiap orang mengenai masa remajanya pun berbeda. Ada yang menganggapnya menarik, penuh tantangan, bahkan menyedihkan. Tergantung dari sudut mana mereka memandangnya.
Kontributor: Almahira Az Zahra, peserta dari Tasikmalaya