Sekolah Kehidupanku, Sekolah yang Sesungguhnya

Semua diawali dengan Indonesia Youth Media Camp (IYMC), sebuah program yang kami inisiasi di Yogyakarta pada tahun 2008. Di sana kami mempertemukan 37 remaja dari 18 Komunitas yang tersebar di Indonesia untuk saling belajar mengenal dan memahami komunitas lain melalui sebuah program belajar membuat media komunitas. Dari Indonesia Youth Media Camp 2008, kami bisa saling belajar dan memahami begitu banyak cerita dan nilai lokal yang selama ini jarang bisa kami dengar dan dapatkan dalam berbagai wacana obrolan keseharian ataupun isu utama di media. Sederhananya, mata kami seperti baru dibukakan.

Namanya Bekinya Tampung dan Sepintak, adalah dua remaja peserta IYMC yang berasal dari Taman Nasional Bukit 12. Mereka adalah remaja sederhana yang tidak jago main komputer, tidak jago bahasa inggris. Jangankan sekolah di sekolah unggulan, seperti remaja lainnya. Sekolah mereka adalah belajar membaca, menulis dan berhitung di sebuah sekolah rimba di pinggir hutan tempat mereka tinggal. Di dalam hutan, tempat mereka tinggal, tidak ada listrik, tidak ada jalanan mulus apalagi alat transportasi. Semuanya harus dilakukan dengan berjalan kaki yang membutuhkan waktu dan ketelitian karena setiap saat mereka bisa saja di gigit ular atau bertemu beruang di tengah perjalanan. Tetapi justru mereka berdualah yang paling mencuri perhatian kami semua saat itu. Kami mengagumi keduanya karena keterikatannya yang begitu besar dengan komunitas asalnya. Hal yang sudah jarang kami temui lagi di kebanyakan remaja kita saat ini. Dan dengan kemampuan berbahasa Indonesia yang terbatas, mereka tetap berusaha berinteraksi dan menyerap informasi dari teman teman remaja lain yang kadang menjadi rumit karena dibebani oleh selipan bahasa asing, jargon atau konsep yang kami yakini sekali bukan bahasa sehari hari mereka. Melihat Bekinya dan Sepintak seperti melihat impian kami yang menjadi nyata, impian kami tentang figur remaja Indonesia.

Bekinya memperkenalkan “Segelo Isa di agi” atau Segala bisa di bagi kepada kami. sebuah cara hidup yang sudah jauh dari kehidupan remaja kita saat ini yang didorong untuk semakin individualis dan kompetitif. Kalimat ini dipilih Bekinya sebagai moto kaos di kelas sablon yang mereka ikuti di IYMC. Sementara remaja lain menuliskan Motto hidup mereka dalam bahasa inggris yang kadang wagu kedengarannya karena kurang tepat penulisannya atau mengambilnya dari majalah dan iklan. Dari Segelo isa di agi ini kami mendapatkan pelajaran bagaimana prinsip hidup berbagi merupakan kunci dari ketahanan sebuah komunitas melalui berbagai krisis. Begitu juga untuk Komunitas asal Bekinya dan Sepintak.

Bekinya tidak pernah hadir sendirian sebagai individu, dia adalah representasi nyata keluarga dan komunitas tempat dia berasal. lewat seorang Bekinya, sesungguhnya kita sedang berinteraksi dengan sebuah komunitas yang jauh hidup di Bukit 12 Jambi. Sebuah tempat yang sampai sekarangpun hanya mampu kami bayangkan dalam pikiran. Berbincang bincang dengan mereka kita pun belajar bagaimana semua hal harus dilakukan dengan tujuan Tidak perlu takut melakukan kesalahan dan memperbaikinya. Seperti cerita bekinya tentang pengalamannya berganti ganti handphone sampai dengan 9 kali. karena terpengaruh ingin seperti teman lain sampai akhirnya dia menyadari bahwa handphone bukanlah kebutuhannya dan hanya menghabiskan uangnya yang seharusnya dia bisa gunakan untuk membuka ladang. Karena saat ini penjualan lahan besar besaran sedang terjadi dan mengancam komunitas mereka. sehingga menabung dan menyiapkan lahan kebun untuk masa depan mereka menjadi hal yang penting untuk segera dilakukan.

Sekolah tempat Bekinya dan Sepintak belajar bukanlah kelas akselerasi atau kelas Internasional. Namanya Sekolah Kehidupan, sekolah yang sebenar benarnya. yang hanya bisa kita dapat melalui interaksi dengan keluarga, teman sekampung, berkesenian, berkumpul dengan teman teman sekampung, membuat jerat rusa, belajar menangkap ikan disungai dengan tangan, berganti handphone 9 kali, bekerja dan peka pada lingkungan sekitar. Dari mereka kami semakin meyakini bahwa menelusuri kearifan dan nilai lokal milik berbagai komunitas di Indonesia seperti komunitas Bekinya dan Sepintak adalah hal yang terpenting saat ini. Agar kami dapat lebih memahami 40 juta remaja Indonesia seperti Bekinya dan Sepintak yang selama ini tidak memiliki “tempat” dalam wacana remaja Indonesia yang lebih banyak di pandu oleh pemilik modal dan media mainstream.

Hal inilah yang melatarbelakangi dibuatnya program Jalan Remaja 1208 yang mengambil tema Sekolah Kehidupanku untuk tahun 2009 ini. Program ini didedikasikan untuk 40 Juta remaja Indonesia yang hidup di kota kecil, di kampung, di pelosok Indonesia. Yang selama ini tidak memiliki ruang untuk menyampaikan sikap dan cara pandangnya sebagai komunitas remaja ke seluruh Indonesia dan Dunia. Jalan Remaja 1208 diharapkan dapat virus baru untuk remaja Indonesia untuk membuat sendiri jalan baru kehidupannya yang lebih punya sikap, tujuan serta kebanggaan pada komunitasnya seperti yang dimiliki oleh Bekinya dan Sepintak.

31 Juli 2009
Kampung Halaman

Tulisan ini di buat untuk Bekinya dan Sepintak di Taman Nasional Bukit 12 dan Remaja Indonesia.

Jalan Remaja 1208 datang lagi! Di tahun 2010 ini, 13 komunitas ingin menyapa Indonesia melalui 25 video berbasis komunitas yang berisi cara pandang remaja tentang berbagai hal yang mereka alami di dunia dekatnya (baca: komunitasnya).

Jalan Remaja kembali mengajak teman-teman untuk menyuarakan pendapat dan kreativitasnya lewat media video diary. Jika tahun lalu, pembuatan video dilakukan lewat Sekolah Remaja, dimana masing-masing komunitas remaja mendapatkan workshop singkat dari kami. Tahun ini, kami menantang remaja untuk melakukannya secara mandiri dan membuatnya ke dalam kompetisi. Kompetisi yang dimaksud bukan untuk berakhir dengan kalah atau menang, tapi kompetisi untuk belajar tentang seberapa dekat kita dengan lingkungan kita. Kedekatan dengan lingkungan itulah yang kemudian membawa kita pada teman tahun ini Rumahku Duniaku.

Kompilasi Video Jalan remaja 1208 tahun ini menampilkan video karya remaja dari berbagai komunitas remaja di berbagai pulau di Indonesia, terutama dari Jawa, Bali, Sumatera, Kalimantan, dan Sulawesi. Cerita yang diungkap dalam karya-karya video mereka sedikit banyak bisa menunjukan ruang lingkup persoalan dan kondisi yang dihadapi dalam kehidupan sehari-hari remaja di Indonesia. Remaja-remaja ini menunjukan apa yang mereka hadapi di rumah, sekolah, lingkungan terdekat (kampung, desa), kota, negara, dan dunia maya (internet), dan bagaimana setiap ruang lingkup itu berhubungan satu sama lain. Namun, yang paling penting dari karya-mereka adalah bagaimana para remaja ini bisa ‘bercermin’ dan ‘bersikap’ menghadapi kondisi-kondisi tersebut, dengan cara mereka, dengan cara yang berbeda-beda. Cermin dan sikap yang bisa bahan bagi mereka sendiri, orang tua, komunitas, masyarakat, dan pemerintah untuk bersama-sama membangun Jalan menuju kondisi yang lebih baik.

Inilah jalan mereka; Jalan Remaja 1208 :)